Sunday, 31 December 2017

Linggasari Andriyani - FAMe Chapter Lhokseumawe

Notula FAMe Chapter Lhokseumawe; Sabtu, 30 Desember 2017
Pemateri : Asmaul Husna
Notulis : Linggasari Andriyani

Sebab-Sebab Tulisan Tidak Dimuat Di Media

Sesungguhnya tulisan kita tidak tembus media bukan disebabkan buruknya hasil karya kita. Ada beberapa hal yang menjadi sebab dasar mengapa tulisan kita tak kunjung tembus media. Selama ini banyak penulis pemula yang khawatir menulis dengan alasan belum paham bagaimana teknik menulis dengan baik, benar dan bijak. Mereka cenderung mengkhawatirkan hal-hal yang bisa dipelajari seiring berjalannya waktu, yang kemudian mengantarkan mereka menjadi penulis andal. Dari pada mengkhawatirkan hal-hal dasar lainnya.

Pertemuan kali ini meski dihadiri oleh sedikit peserta, namun ilmu yang kami terima cukup banyak. Membahas hal penting dan mendasar, yakni sebab-sebab tulisan tidak di muat di media. Pemateri sendiri sudah merangkum berdasarkan pengalaman dan pemahaman beliau. Maka tersebutlah 21 sebab tulisan tidak di muat di media, yakni:

1. Plagiat, yakni mengutip sebagian atau seluruh isi tanpa mencantumkan nama nara sumber.

2. Topik kurang/ tidak akurat, hal ini biasanya mendera penulis pemula. Sebab menunggu mood atau inspirasi menulis tentang topik yang tengah hot, maka tanpa disadari waktu berlalu begitu saja dan topik terus berganti tanpa menunggu kalian menyelesaikan opini dengan trending topik di waktu yang sudah lewat. Oleh karena itu dianjurkan untuk langsung menulis ide yang muncul tiba-tiba, agar menghindari kebiasaan menunda-nunda hingga terlupa.

3. Argumen dan pandangan bukanlah hal baru, di sini dimaksudkan agar setiap menulis meski temanya sama disarankan bahkan memang diharuskan inovatif. Bukan sekedar menulis semata, hanya karena temanya sudah pernah dibahas setiap tahunnya bukan berarti kita diperbolehkan menulis ulang hal-hal yang sudah pernah ditulis oleh penulis lainnya.

4. Tidak dilengkapi dengan data yang akurat, sebab banyak penulis pemula yang merasa sulit menemukan data yang sesuai dengan isu. Misal data jumlah kerusakan hutan bisa kita temukan di BPS.

5. Kurang menyangkut kepentingan sebagian besar pembaca. Tulisan di media sendiri ditujukan untuk khalayak umum, jadi sudah pasti hal yang diteroma ialah hal yang menyangkut kemaslahatan juga informasi bagi umat banyak, bukan hanya sebagian.

6. Analisis tidak tajam/ terlalu dangkal. Hampir sama dengan poin ketiga, cenderung menulis hal-hal yang umum atau menulis kembali pemikiran yang sudah pernah dipaparkan sebelumnya. Jikapun dianalisi ulang, maka analisisnya dangkal.

7. Telah dimuat tulisan serupa. Hal ini biasanya terjadi pada kasus tulisan yang membutuhkan momen-momen tertentu, maka biasanya media memilih dengan jeli tulisan yang bertemakan sama.

8. Konteks kurang jelas, penulis sendiri masih belum memutuskan akan mengeksekusi tulisannya bagaimana, sehingga isi tulisan biasanya tidak konsisten dari paragraf awal atau campur aduk di dalamnya.

9. Tulisannya terlalu panjang atau terlalu pendek. Saran, lihat kembali media yang akan dikirimi tulisan. Sebab space opini untuk berbagai media berbeda dan juga panjang atau pendeknya sebuah tulisan tidak mencerminkan kedalaman analisis masalah yang ada. Misal kompas menerbitkan 4 opini tiap harinya, sedang serambi 2 opini.

10. Bahasa terlalu ilmiah/ akademis, kurang populer. Keberhasilan dilihat dari pemahaman pembaca, sedangkan tulisan yang bernas tidak melulu tulisan yang mengandung banyak bahasa/ kalimat asing yang sulit dimengerti. Boleh menggunakan kalimat populer asal mudah dicerna oleh pembaca.

11. Terlalu banyak kutipan. FYI, opini itu mengandung pendapat penulis, bukan mengumpulkan teori atau pendapat ahli.

12. Paragraf pengetikan yang terlalu panjang. Hindari menulis dengan paragraf panjang, terlebih minim tanda baca. Misal satu paragraf terdiri dari 9 baris, 1 koma dan 1 titik. Paragraf yang baik terdiri dari 5-7 baris.

13. Gaya tulisan pidato, surat, makalah kuliah. Hindari menulis opini dengan pembukaan salam, bukan mengebelakangkan tata krama atau kesopanan, karena tulisan yang di awali oleh salam biasanya surat dan pidato. Bukan opini.

14. Terlalu sarat dengan teori hingga melelahkan pembaca. Dalam menulis opini tidak disarankan memuat banyak teori, sebab opini sendiri pemikiran terbaru penulis mengenai sebuah isu.

15. Tulisan berantakan dan sulit dibaca. Kalimat paragraf yang satu dengan paragraf selanjutnya tidak runut dan berkesinambungan, sehingga sulit dimengerti oleh pembaca. Juga tanda baca yang diletakkan tidak pada tempatnya.

16. Tulisan tidak cocok dengan misi media yang bersangkutan. Mengetahui visi dan misi sebuah media sebelum mengirim tulisan sangat dianjurkan. Misal, mengirim tulisan tentang perayaan natal kepada media serambi bukanlah pilihan yang benar, kirimlah kepada kompas.

17. Keterbatasan space media. Bisa jadi tulisan kita sudah layak, namun ada tulisan yang sama dengan angle yang unik yang diterbitkan. Karena space media tadi, seperti serambi yang hanya memuat 2 opini per hari.

18. Mengutip dari sumber media lain, kecuali berada dalam satu grup. Jika kita ingin mengirim tulisan ke serambi, usahakan kutipan atau acuan pendapat harus dari media serupa. Serambi juga. Jangan mengutip dari judul berita dari kompas dan mengirimkan ke serambi. Padahal berita serupa juga pernah diterbitkan oleh serambi.

19. Sumber kutipan kurang jelas. Tidak semua media cetak kredibel, semisal koran kuning. Korannya sudah dicetak, laku namun kredibilitasnya kurang. Contoh koran prohaba.

20. Mengirim satu tulisan ke beberapa edia secara bersamaan. Ini sebenarnya menyangkut etika, bukan tidak diperbolehkan, boleh-boleh saja asal ada pemberitahuan lanjutan. Jika sudah mengirim tulisan berjudul A ke serambi namun sudah 2 minggu tidak juga dapat kabar apakah tulisan kita diterbitkan atau tidak, maka jangan langsung memutuskan mengirim ke surat kabar lainnya, tapi kirimkan lagi pemberitahuan ke serambi bahwa tulisan dengan judul A ditarik oleh penulis.

21. Tidak pernah mengirim tulisan ke media massa. Ini masalah besar. Jangan harap tulisan kita dimuat di media jika kita sendiri tidak mengirimkan ke media tersebut.

Demikian 21 sebab tulisan tidak dimuat di media versi Kak Asma. Semoga memberi pencerahan kepada kita yang sudah menulis namun belum juga dimuat. Selama tulisan kita dikirimkan ke media, percayalah suatu saat akan dimuat, selama kita terus berusaha dan belajar.

0 comments:

Post a Comment